ITANG YUNASZ: karyanya menjelajah dunia lewat pameran Contemporary Muslim Fashions

On July 21, 2019 by Amy

Karya Itang Yunasz  yang diinspirasikan dari keindahan motif tenun Sumba dipamerkan  di DeYoung – Fine Arts Museums San Francisco Amerika Serikat, pada September 2018 hingga Januari 2019 lalu. Dan kini, karyanya diterbangkan ke Frankfurt Jerman untuk dipamerkan di  Museum Angewandte Kunst. Dalam rencana, 3 kota besar lainnya sudah menanti.

PHOTO-2018-10-17-10-42-20

Itang Yunasz dan muse-nya -Okky Asokawati- di depan gedung pameran de Young

PHOTO-2018-10-17-10-51-06

Sepanjang jalan di depan gedung pameran, ada umbul-umbul dengan model internasional Halima Aden yang memakai busana karya Itang Yunasz dan selendang tenun Sumba antik dikenakan sebagai hijab

IMG_2743

IMG_2744

Brosur Pameran dengan cover Halima Aden dalam balutan busana karya Itang Yunasz

 

 

IMG_2766

HAlima Aden … stunning!

17 September 2018. Menapaki 37 tahun berkarya, Itang Yunasz semakin mengukuhkan dirinya sebagai desainer yang memiliki kekuatan di ‘dunia persilatan’ industri fashion Indonesia. Terbukti dengan masuknya namanya dalam radar team kurator Costume and Textile Arts at the Fine Arts Museums of San Francisco yang akan menggelar pameran bertajuk Contemporary Muslim Fashions mulai 22 September mendatang.

Team kurasi ini terdiri dari

  • Jill D’Alessandro, sebagai Curator in Charge of Costume and Textile Arts at the Fine Arts Museums of San Francisco,
  • Laura L. Camerlengo, Associate Curator of Costume and Textiles at the Fine Arts Museums

of San Francisco

  • Reina Lewis, Professor of Cultural Studies at the London College of Fashion, University of the Arts London, sebagai konsultan kurator.

Itang Yunasz dinilai sebagai desainer yang menjadi pelopor dan memberi pengaruh pada ‘ombak’ perkembangan busana muslim Indonesia yang juga mempengaruhi perkembangan industri busana muslim dunia.

Suasana pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Suasana pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Suasana pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Suasana pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

CONTEMPORARY MUSLIM FASHIONS adalah pameran museum besar pertama yang mengeksplorasi sifat kompleks dan beragam kaidah busana Muslim di seluruh dunia. Pameran dengan tim kurator yang dikomandani Jill D’Allesandro ini menelaah bagaimana perempuan Muslim — mereka yang menutupi kepala mereka dan mereka yang tidak — menjadi penentu gaya di dalam dan di luar komunitas mereka, yang kemudian menjadi daya tarik media massa untuk lebih memperhatikan kehidupan Muslim masa kini (kontemporer). “Bagi saya, berbusana santun bukanlah sekadar fashion, tetapi bisa diibaratkan ‘nafas’ kami sebagai umat muslim, dan pameran ini menjadi sangat penting dalam perkembangan busana muslim karena bisa dianggap sebagai sebuah statement, sebuah bentuk diterimanya dan dihormatinya sebuah keyakinan sebagian masyarakat dalam berpenampilan yang mengacu pada petunjuk-Nya, yang kemudian penerimaan ini dibagikan pada masyarakat luas melalui sebuah presentasi pameran. Ini sungguh sesuatu yang luar biasa,” ujar Itang Yunasz.

Salah satu sudut pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Salah satu sudut pameran Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Salah satu sudut Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Salah satu sudut Contemporary Muslem Fashions di de Young Museum San Francisco

Diharapkannya kehadiran karya Itang Yunasz di pameran ini, tidak lepas dari keputusan besarnya di tahun 2000. Saat itu ia mengambil langkah berani, “Saat pertama beralih ke busana muslim dan masuk ke Tanah Abang, saya menghadapi banyak macam reaksi mulai dari yang positif sampai negatif. Masa itu busana muslim atau modest wear lebih banyak dikenakan oleh kalangan bawah. Sementara perempuan di kalangan menengah atas belum banyak yang mengenakannya, yang menurut saya disebabkan karena image busana muslim di masa itu yang desainnya membosankan dan tidak mengikuti trend. Kalau pun ada yang keren, harganya tidak murah. Saya merasa terusik dan melihat hal ini sebagai celah pasar yang belum dilirik. Saya merasa bisa memberikan pilihan desain busana muslim yang sertara dengan brand-brand internasional yang terjangkau seperti brand Zara dan Mango, dengan sekaligus mendekatkan para pemakainya dengan motif-motif yang memunculkan budaya Indonesia,” kenang Itang Yunasz.

Ternyata walau pun dipasarkan di Tanah Abang dengan harga yang relatif murah, karyanya ternyata diterima segala lapisan masyarakat. Bahkan ia dapat mengembangkan lininya dengan membuat beberapa brand, mulai dari lini utamanya Itang Yunasz, second linenya, Itang Yunasz Ready to Wear, dan berbagai lini ready to wear lainnya seperti: Kamilaa by Itang Yunasz, Preview, Tatum, SZ, Allea Itang Yunasz, Kabana by Itang Yunasz, dan Gajah Duduk X Itang Yunasz.

Kini modest fashion dengan cepat menjadi fenomena komersial; pasar busana Muslim global diperkirakan bernilai $ 327 miliar pada 2020, menurut laporan Global Islamic Economy terbaru – lebih besar dari pasar busana saat ini dari Inggris ($ 107 miliar), Jerman ($ 99 miliar) dan India ($ 96 miliar) digabungkan. Dan kelas menengah Muslim yang sedang naik daun, memiliki kemakmuran yang lebih besar dan selera yang canggih serta kebanggaan dalam agamanya, kemungkinan akan meningkat tiga kali lipat dari sekitar 300 juta pada 2015 menjadi 900 juta pada 2030, menurut Ogilvy Noor, konsultan branding Islam. (Menegaskan Identitas Busana Muslim, NYTimes.com, 1 November 2016).

3 karya Itang Yunasz bertajuk TRIBALUX SUMBA yang dipamerkan di sana

3 karya Itang Yunasz bertajuk TRIBALUX SUMBA yang dipamerkan di sana

 

Ia menampilkan koleksi yang mengusung tema ‘Tribalux Sumba’. Melalui karyanya Itang Yunasz ingin menyampaikan kecintaannya pada pesona tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kecantikan dan keindahan motif kain tenun Sumba mampu membuat Itang terpaku akan sebuah warisan budaya leluhur. Masing-masing kain memiliki motif dengan detail yang memesona seakan bercerita tentang tradisi. Koleksi ini ditampilkan dalam warna indigo dan cokelat kopi dan maroon yang membuatnya ‘hidup’.

 

IMG_3008 2

Perhiasan dari MannaQueen mempercantik penampilan karya Itang Yunasz

Perhiasan dari MannaQueen mempercantik penampilan karya Itang Yunasz

IMG_3007

Dan untuk menyempurnakan kemewahan penampilan, sejumlah untaian kalung dan bros koleksi Mannaqueen dihadirkan sebagai perhiasan. Kreasi MannaQueen selalu berangkat dari kekayaan budaya Indonesia sebagai inspirasi dengan memakai semi precious stone, mutiara, lapis emas, rhodium dan perak dan menghasilkan kreasi yang cantik dan unik dalam jumlah terbatas.

IMG_2764

Tidak hanya pameran, ada diskusi juga

Itang Yunasz dan Okky Asokawati, ikut mendengarkan talkshow tentang busana muslim dunia.

Itang Yunasz dan Okky Asokawati, ikut mendengarkan talkshow tentang busana muslim dunia.

Diundangnya Itang Yunasz dalam pameran CONTEMPORARY MUSLIM FASHIONS ini merupakan sebuah pengakuan internasional pada kiprah dan karyanya yang telah ia ukir selama 37 tahun. Kehadirannya di pembukaan pameran Contemporary Muslim Fashions ini pun mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif dan Djarum Bakti Pendidikan. Itang Yunasz berharap, kehadirannya bersama Dian Pelangi, dan Khanaan di moment penting ini juga sekaligus mewakili desainer modest fashion Indonesia dan memperkuat kedudukan Indonesia sebagai pusat busana Muslim yang menjadi target pemerintah pada 2020.

IMG_2808

Katalog pameran dibuat ekstra bagus dengan memilih karya Itang Yunasz sebagai cover.

 

Laura L. Camerlengo, Associate Curator of Costume and Textiles at the Fine Arts Museums of San Francisco dan Jill D’Alessandro, sebagai Curator in Charge of Costume and Textile Arts at the Fine Arts Museums of San Francisco sedangn ditunjukkan 2 kain antik yang disumbangkan Itang Yunasz untuk museum.

Laura L. Camerlengo, Associate Curator of Costume and Textiles at the Fine Arts Museums of San Francisco dan Jill D’Alessandro, sebagai Curator in Charge of Costume and Textile Arts at the Fine Arts Museums of San Francisco sedangn ditunjukkan 2 kain antik yang disumbangkan Itang Yunasz untuk museum.

Pameran ini telah berlangsung di San Francisco USA hingga Januari 2019. Bagi Anda yang belum sempat melihat,  dankebetulan sedang mengunjungi kota Frankfurt, silakan singgah ke Museum Angewandte Kunst di Museum Angewandte Kunst, Frankfurt, Germany, where it will be on   yang akan menggelar pameran ini hingga 15 Septermber 2019 mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *