Pesan Positif Pria Kota

On January 24, 2016 by Amy

Di peragaan menswear karya desainer senior Musa Widyatmodjo Anda bisa menjumpai semua hal yang Anda harapkan dalam penampilan seorang pria yang hidup di perkotaan. Anggun sekaligus dinamis dan klasik sekaligus edgy.

FOTO: FERRY ZULFRIZER

artikel musa_MG_8230 quote copy

Dengan memanfaatkan wastra Nusantara seperti batik, tenun ikat, tenun ATBM dan lurik, desainer yang telah 24 tahun berkiprah ini berhasil membuat padupadan yang mematahkan paham bahwa sehelai kain Nusantara sulit untuk dikreasikan. Buktinya, kemeja-kemeja yang dihasilkannya justru kental memadukan berbagai wastra yang bahkan melintas Nusantara. Tenun ikat NTT digabung dengan tenun ATBM Garut yang lalu masih pula dikombinasikan dengan potongan batik. Lalu sentuhan stitches dan sulam menjadi detail yang membangun ketegasan dalam setiap desain yang ditampilkan.

artikel musa_MG_9261 artikel musa_MG_7788 artikel musa_MG_7846

Keseluruhan 70 koleksi ready to wear ini ditampilkan pada Jakarta Fashion and Food Festival yang berlangsung akhir Mei lalu di Hotel Harris – Kelapa Gading Mal sebagai desain yang unik, khas Musa Widyatmodjo. “Puluhan tahun silam, pria masih tampil konvensional dan konservatif. Namun belakangan, ternyata keinginan untuk tampil lebih dinamis dan berbeda mulai muncul di kalangan muda. Hal itu membawa pengaruh yang positif ketika kalangan muda tersebut lalu tiba di usia matang. Keinginan untuk berbusana yang sesuai dengan karakternya mulai timbul,” kata desainer jebolan jurusan Fashion Design di Drexel University, Philadelphia ini ketika dijumpai Bacarat sebelum peragaan berlangsung.

artikel musa_MG_7702 artikel musa_MG_9234 artikel musa_MG_7836 artikel musa_MG_9230

Bukan hanya kemeja yang dirancang dengan memadukan beberapa material kain, tetapi juga setelan jas dan celana. Konstruksi tegas pada jas terlihat makin dinamis ketika Musa memadukan kain produksi dalam negri, Bellini, berwarna abu-abu dengan aksen warna biru pada saku jas. Ada pula jas biru tua bergaris halus yang dikombinasikan dengan tenun ikat NTT berwarna kontras merah tanah pada saku, kerah dan tepi lengan. Kesan berbeda sekaligus fashionable, langsung terbangun pada jas-jas kreasi Musa ini. Hal serupa –memadukan beberapa kain- dilakukan juga pada celana panjang mau pun dasi dan sepatu yang menyempurnakan penampilan. Pada celana khususnya, sentuhan tradisional ini hadir pada lipatan celana ekstra lebar dibuat dengan menggunakan kain tenun NTT, atau pada pas pinggang atau pun tepi saku celana.

IMG_9290 IMG_9061 IMG_8981 IMG_8918 IMG_8872 IMG_8856 IMG_8570 IMG_8556 IMG_9463 IMG_9410

Menyaksikan peragaan busana ready to wear bertajux ‘Luxury Man by Musa Widyatmodjo’ ini, kita seolah melihat sebuah pesan positif untuk kembali menengok kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa mengagumkan. “Apa yang saya lakukan hanyalah memanfaatkan karya para pengrajin yang bekerja memintal, menenun, menyulam helai demi helai dengan kepakaran dan dengan cinta mereka. Jadi yang perlu dipertahankan adalah keberadaan mereka, para perajin itu, ironisnya di ‘hulu’ industri fashion tradisional ini, jumlah pemintal, penenun, atau pun penyulam setiap tahunnya semakin berkurang. Tanpa disadari oleh kita masyarakan di kota, mengenakan karya mereka adalah sebuah luxurious. Dengan membeli karya mereka dan mengreasikan sebagai tawaran baru bagi pemakainya, harapan saya mereka tetap bersemangat untuk terus menenun dan juga penerusnya tergerak untuk mempertahankan kekayaan kita bersama,” ujar Musa dalam haru.

artikel musa_MG_9336

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *