Pilgrimage: Pengembaraan Didi Budiardjo
Mengunjungi Museum tekstil kali ini saya diliputi perasaan yang luar biasa. Semangat, excited, dan penasaran. Sebab bisa dikatakan ini adalah kali pertama sebuah pameran diadakan yang menampilkan desainer di Indonesia. Setiap bagian sang desainer dikomunikasikan dalam bentuk display yang dikerjakan dengan detil, sehingga setiap pengunjung dapat mengenal dunia dan jiwa sang desainer. Ini adalah sebuah dobrakan!
Saya juga merasa senang karena Didi Budiardjo memilih Museum Tekstil untuk menampilkan perjalanannya, bukan di hotel atau di mall seperti yang biasanya menjadi target mencari crowd. “Saya memilih museum karena yang saya tampilkan ini adalah perjalanan saya di dunia fashion Indonesia. Pameran ini sendiri adalah rangkaian dari perayaan 25 tahun saya di dunia fashion. Dibuka dengan fashion show di 2014 lalu, kemudian pameran ini, dan nanti masih akan ada satu acara lagi di bulam Maret yang belum bisa saya share,” kata Didi ketika kami berbincang. Ia sengaja memilih museum karena menurutnya Museum adalah tempat yang tepat untuk menceritakan sejarah, sekaligus ia juga ingin pecinta fashion tertarik untuk melangkahkan kaki ke museum
Saya, yang mengunjungi pameran ini bersama dua sahabat, Svida Alisjahbana dan Intan Abdams Katoppo (bisa dibilang kami bertiga adalah pecinta fashion -khususnya fashion Indonesia-), kemudian diantar Didi Budiardjo berkeliling melihat 14 ruangan yang masing-masing ruangan ditata dengan tema spesifik. Didi, di dalam dunia fashion mengandaikan dirinya sebagai seorang pengembara alias pilgrimage yang selalu mencari dan menemukan hal baru yang menarik perhatiannya. Dan hal-hal inilah yang ia ingin bagikan dengan masyarakat luas. Di awali di Atelier atau ‘Ruang Kerja’ Didi yang dipenuhi tumpukan buku. Di sinilah ide-ide Didi Budiardjo bermunculan, lalu dikemas dalam langkah awal berupa mood board. “Mood board ini saya buat untuk menjaga agar karya saya agar tidak lari dari inspirasi. Sambil menunjuk bagian-bagian yang ada di mood board ia mengatakan,”Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari membaca buku, berita, menonton film, ngobrol dengan teman, atau jalan-jalan. Ini adalah puisi cinta (sambil menunjuk bait yang tertulis dalam huruf Arab), saya tidak bisa membaca puisi ini, saya tidak mengerti dan cinta memang sesuatu yang tidak kita mengerti.”

“Baru di tahun 200an saya memakai moodboard sebelum mendesain, dan memang saya merasa lebih mudah dan terarah dalam mendesain dengan bantuan moodboard ini.”
“I’m a nerd.” katanya sambil menunjuk tumpukan buku di ruang kerjanya itu sambil tersenyum.
Kami lalu diajak melihat ruangan ke dua, Prelude. “Ini adalah tempat saya belajar, baju yang merah itu adalah guru saya Susan Budihardjo. Itu adalah baju beliau yang saya pinjam dan saya ingin hadirkan di sini, karena dari beliaulah saya belajar fashion. Dan baju yang di tengah ini adalah ‘putri’ tertua saya, yang saya buat saat masih bersekolah.” Didi menjelaskan. Ia memang menyebut semua karyanya sebagai putri-putrinya … “Saya adalah ibu dari semua koleksi saya,” ujar desainer kelahiran Malang ini.
Di sisi lain, ada sebuah dinding yang berhias pecahan pola. “Ini salah satu pola yang tersimpan dengan baik.Untuk satu gaun ini ada 19 potongan pola. Bukan yang terbanyak dan bukan yang tersulit. Hanya kebetulan saja pola ini tersimpan dengan baik, jadi saya ingin share apa yang saya telah kerjakan. Semua baju yang saya desian, saya kerjakan sendiri pecah polanya.”

Potongan pola di dinding. Dan anak saya, Aini, sengaja saya ajak ke pameran ini agar mengenal proses desain dan proses menjadi desainer, selain juga mengenal tokoh fashion Indonesia.
Selanjutnya kami diajak berkeliling 12 ruangan yang ditata sesuai dengan inspirasi dan imajinasi Didi. Ruangan White, Boudouir, Faith, Voyage, Gula Kelapa, Orient, The East, Nocturne, Paradisaea, Celestial, Backstage dan ditutup dengan Finale. Sebuah pengalaman yang berbeda dibanding menyaksikan sebuah peragaan busana. Di sini kami para ‘penonton’ mendapat kesempatan untuk melihat secara detil semua busana yang ‘diperagakan’ alias dipamerkan. Detil yang luar biasa ‘kretil’ yang dieksekusi dengan sangat rapi tentunya membuat kami semua berdecak kagum. Ini bukan hanya sebuah desain gaun biasa. Tetapi sebuah seni yang luar biasa.

Salah satu karya yang menarik perhatian saya. Jumpsuit ini dibuat dengan memanfaatkan ‘kekuatan’ tekstur ritsleting yang ditata sedemikian rupa yang bagi Didi merupakan ekspresi aliran darah di tubuh manusia.

Inspirasi budaya Spanyol.yang menarik perhatian saya justru hiasan kepalanya yang mirip hiasan kepala NTT

Sulam Padang menjadi kekuatan koleksi ini. Di sudut lain tersedia monitor yang memperlihatkan bagaimana sulaman dengan teknik khas Padang ini dikerjakan.

Latar belakang kain Grinsingan yang menggunakan teknik double ikat (teknik ini di dunia hanya ada di dua tempat yaitu India dan Indonesia)

Artwork yang ada di foto sebelum ini dapat di buka seperti sebuah jendela, dan mengungkap cinta ibu dan anak, yang oleh Didi dilihat dalam hubungan Bunda Maria dan Yesus. Cinta yang terus bersemi menjadi inspirasi Didi dalam mendesain gaun ini.
Akhir berkeliling saya benar-benar merasa seperti telah diajak mengembara dalam alam dunia Didi budiardjo, tak hanya berkeliling Indonesia dan dunia, tak hanya eksplorasinya pada material yang diubah menjadi gaun cantik, tetapi juga ikut melihat penjelajahan Didi dalam dunia spiritualnya yang kemudian diekspresikan dalam bentuk gaun. Saya menyampaikan salut saya untuk Didi atas karyanya yang luar biasa sejak ia menapak kariernya, untuk konsistensinya berkarya dan pastinya untuk ide menyelenggarakan pameran ini, berbagi ilmu dengan khalayak. Apresiasi ini tentunya juga saya berikan untuk Felix Tjahyadi, sang Art Director, yang bolak-balik disebut Didi telah banyak membantunya dalam merealisasikan keinginannya baik dalam show mau pun pameran ini.
Saya memang benar-benar terpersona dengan semua yang disajikan di pameran ini, rasa mengenal lebih dekat seorang Didi Budiardjo dengan segala kejeliannya sekaligus kedetilannya dalam mendesain, memilih material, mengeksekusi desainnya dari gambar menjadi helai gaun indah langsung lekat dalam diri saya.
Saya katakan pada Didi dengan rasa antusias yang tidak surut seperti ketika saya baru datang,”Didiiii … Ini seperti di Paris dan mengunjungi Musee de la Mode … I’m so happy! Akhirnya di Indonesia ada juga pameran seperti ini.” Pecinta Cristobal Balenciaga dan Yves Saint Laurent ini hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Reaksi ini berbeda dengan ketika saya menanyakan dengan penasaran setelah melihat 70 gaun yang luar biasa … gaun mana yang menjadi favoritnya? … “They’re all my daughers … I can not choose!” #oops 😉
Sekali lagi SALUT ya Didi!!
CATATAN BAGI YANG INGIN MELIHAT PAMERAN INI:
A Fashion Journey 1989-2015 – Didi Budiardjo – PILGRIMAGE, masih berlangsung sampai dengan 1 Februari 2015 di Museum Tekstil Jakarta. Jam buka 10.00-15.00 termasuk hari Minggu.
Alamat Museum tekstil Jakarta: Jalan AIPDA KS Tubun no 4, Jakarta 10260







Free Piano
It is incredibly, very user-friendly and user friendly. Great job for the fabulous site.