Karena jilbab, sanggul akan punah?

Perempuan berkebaya di jaman kemerdekaan, cantik dan anggun dengan sanggul yang menjadi gaya menata rambutnya.
Photo courtesy of http://manto0780.blogspot.com/2013/05/kebaya.html
Perubahan gaya hidup memang berpengaruh pada banyak hal. Di dunia fashion demikian juga. Salah satunya adalah banyaknya perempuan yang memilih berjilbab ternyata berefek pada keberadaan sanggul dan tusuk sanggul. Tidak percaya? Tapi ini benar lho … Saya mulai mengamati ini ketika suatu hari saya menghadiri acara Wanita Indonesia Tanpa Tembakau di sebuah ballroom hotel di April lalu. Karena memperingati hari Kartini, tentu dress code-nya adalah berkebaya.
Tak usah membahas mereka yang tidak berjilbab, karena soal berbusana nasional ini bukanlah hal yang baru, sehingga bisa dikatakan perempuan Indonesia sudah fasih berbusana nasional (walau pun kainnya mungkin dijahit dengan ritsleting). Yang menarik perhatian saya (dan Tini Sardadi, sahabat sekaligus partner menulis buku) adalah bagaimana mereka yang berkerudung terlihat ‘gagap’ ketika berbusana nasional. Ada yang kerudungnya dililit bertumpuk hingga seperti turban India, ada yang dililit tumpuk lalu diberi selendang seperti penari Timur Tengah dan ada yang memakai penutup kepala mengilap seperti bola disko. Budaya campur-campur akhirnya muncul dalam satu penampilan: bajunya Jawa, kepalanya India … bajunya Sumatera, kepalanya Arab … Uughhh pusing saya melihatnya. Kenapa kebaya yang simple harus dipadankan dengan tatanan kepala yang ‘sibuk’? sampai-sampai keindahan kebaya Kartini atau kebaya kurungnya hilang tertelan ‘kesibukan’ lilitan selendang. Kenapa saat berkebaya, sanggul dilupakan? Rasanya keanggunan dan kefemininan dari sanggul ikut silam tertelan lilitan ekstra tumpuk tersebut. Sedikit dari mereka yang menata jilbabnya secara sederhana dengan siluet sanggul di dalamnya.

Contoh gaya berkerudung untuk berkebaya
Foto dari buku 1001 Ide Kreatif Art Kea: Seri Muslimah ‘Kerudung Khasanah Nusantara’

Kebaya Labbu, busana adat Bugis/Makassar dengan tatanan kerudung bersanggul yang serasi.
Foto diambil dari buku: 1001 Ide Kreatif Art Kea: Seri Muslimah ‘Kerudung Khazanah Nusantara’
Ilmu berjilbab memang relatif baru dan menjadi marak, sehingga bisa dibilang saat menggunakan busana nasional para hijabers masih dalam tingkatan mencari bentuk tatanan hijab yang sesuai dengan kebaya. Sebetulnya ini bukan hal yang sulit. Cukup mengingat dasarnya … bahwa kebaya Indonesia selalu dipadankan dengan sanggul. Maka ketika berkerudung selayaknya tetap mempertahankan sanggul. Janganlah menghilangkan budaya bersanggul ini.
Caranya? Gunakan ikat rambut atau jepit bervolume untuk membangun siluet sanggul, atau gunakan ciput yang sudah dilengkapi sanggul. Bisa dipilih ciput dengan sanggul Jawa, Betawi atau ciput bercepol biasa. Jika siluet sanggul sudah terbentuk, lilitan sederhana kerudung di atasnya pastinya membangun penampilan yang cantik tanpa meninggalkan budaya Indonesia.
Selain mempertahankan bentuk sanggul, hal lain dalam tatanan rambut yang juga ikut terancam ‘punah’ adalah hiasanya yang dikenal dengan sebutan tusuk sanggul. Memang harus ada usaha lebih jika ingin tetap menggunakannya saat berkerudung, misalnya dengan menciptakan kerudung khusus untuk berbusana nusantara yang dilengkapi lubang khusus untuk menusukkan tusuk sanggul. Atau bisa juga dengan membuat lipatan kerudung khusus untuk menyisipkan hiasan rambut, misalnya yang berbentung sirkam.
Apa pun upaya yang dilakukan, setidaknya kita sama-sama mempertahankan gaya bersanggul yang khas Indonesia dan menyimpan kekayaan seni budaya Indonesia.

Kebaya panjang asal Padang, berbahan sutra satin, dengan tatanan kerudung bersanggul cepol.
Foto diambil dari buku: 1001 Ide Kreatif Art Kea: Seri Muslimah ‘Kerudung Khazanah Nusantara’

Kebaya panjang suit asal Riau, berbahan songket setelan, dengan tatanan kerudung bersanggul cepol.
Foto diambil dari buku: 1001 Ide Kreatif Art Kea: Seri Muslimah ‘Kerudung Khazanah Nusantara’






Suka deh artikel ini “Ada yang kerudungnya dililit bertumpuk hingga seperti turban India, ada yang dililit tumpuk lalu diberi selendang seperti penari Timur Tengah dan ada yang memakai penutup kepala mengilap seperti bola disko. Budaya campur-campur akhirnya muncul dalam satu penampilan: bajunya Jawa, kepalanya India … bajunya Sumatera, kepalanya Arab … Uughhh pusing saya melihatnya. Kenapa kebaya yang simple harus dipadankan dengan tatanan kepala yang ‘sibuk’? ” Ini betul banget 😀
Setuju dengan tulisan (dan buku) ini… berkerudung dan berbusana muslimah, tapi tetap dengan gaya Indonesia…
Menentukan jenis upacara karena setiap kegiatan menggunakan pakaian yang tidak sama. Mengetahui jenis upacara atau kegiatan yang akan dilakukan berguna untuk menentukan jenis pakaian apa yang dibutuhkan.
Halah, ribet amat ya? Gak maulah gw jadi budaknya apa kata ustad. Lebih cinta budaya asli Nusantara yang udah ribuan tahun ketimbang ustad kemaren sore yang ngarab banget.