TRIBAL DIVERSITY – Itang Yunasz di NYFW 2019 bersama Wardah
Menapaki 37 tahun berkarya, Itang Yunasz semakin mengukuhkan dirinya sebagai desainer yang memiliki kekuatan di peta ‘dunia persilatan’ industri fashion Indonesia. Terbukti dengan kehadiran koleksinya di New York Fashion Week 2019 yang berlangsung pada 7 Februari 2019 lalu.

Di panggung NYFW2019 ini Itang Yunasz -yang tergabung dalam team Wardah Fashion Journey- menampilkan koleksi yang mengusung tema ‘Tribal Diversity’. Melalui karyanya Itang Yunasz ingin menyampaikan kecintaannya pada pesona tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kecantikan dan keindahan motif kain tenun Sumba dikreasikan dalam bentuk motif yang diprint di atas helai kain sutra dan juga lace. ‘Ini adalah pertama kalinya saya mencoba mengolah motif tradisional ke atas kain jenis lace –atau yang orang biasa sebut brokat- Saya sendiri juga exhited ingin melihat penampilan di atas panggung,’ ujar Itang Yunasz.
to see full fashion show, please click here

Koleksi ini ditampilkan dalam siluet yang terinspirasi dari gaya Boho yang longgar serba melayang dengan sentuhan tribal yang kental. Warna lembut cokelat kopi, semburat merah muda dan terakota menjadi pilihan yang mewakili nuansa warna khas Sumba sekaligus diprediksi akan menjadi trend fashion di musim mendatang.
Dan untuk menyempurnakan kemewahan penampilan, sejumlah untaian kalung dan bros koleksi Mannaqueen dihadirkan sebagai perhiasan. Kreasi MannaQueen selalu berangkat dari kekayaan budaya Indonesia sebagai inspirasi dengan memakai semi precious stone, mutiara, lapis emas, rhodium dan perak dan menghasilkan kreasi yang cantik dan unik dalam jumlah terbatas.
Kehadiran karya Itang Yunasz di New York Fashion Week ini, tidak lepas dari keputusan besarnya di tahun 2000. Saat itu ia mengambil langkah berani dengan mengubah target marketnya yang awalnya adalah busana eksklusif perempuan yang mewah, berubah dengan mengkhususkan pada desain dan produksi busana muslim. Langkah ini tergolong nekad sebab di masa itu busana muslim belum dilirik. Selain karena dianggap tidak berkelas, busana muslim saat itu bisa dibilang ‘tidak ada uangnya’. Kalau pun ada brand fashion muslim saat itu, yang keren harganya mahal, sedangkan yang terjangkau desainnya murahan.
Itang Yunasz lalu hadir membuat dobrakan dengan menelurkan karya-karya yang mampu memberikan nafas baru pada busana muslim menjadi sesuatu yang lebih modern, dinamis dan mengikuti trend dengan tetap mempertahankan harga yang terjangkau. Tidak heran ia dinilai telah menjadi pelopor busana muslim masa kini yang kiprahnya turut memengaruhi bergeraknya industri fashion Indonesia secara lebih masif melalui koleksi ready to wear yang dibuat dalam jumlah besar dan mampu diserap pasar.

Kini modest fashion dengan cepat menjadi fenomena komersial; pasar busana Muslim global diperkirakan bernilai $327 miliar pada 2020, menurut laporan Global Islamic Economy terbaru – lebih besar dari pasar busana saat ini dari Inggris ($107 miliar), Jerman ($ 99 miliar) dan India ($96 miliar) digabungkan. Dan kelas menengah Muslim yang sedang naik daun, memiliki kemakmuran yang lebih besar dan selera yang canggih serta kebanggaan dalam agamanya, kemungkinan akan meningkat tiga kali lipat dari sekitar 300 juta pada 2015 menjadi 900 juta pada 2030, menurut Ogilvy Noor, konsultan branding Islam. (Menegaskan Identitas Busana Muslim, NYTimes.com, 1 November 2016).











